Thursday, December 24, 2009

My Plan

Holiday's coming. But I've not gone home. Holiday starts on 24TH of Dec until 15th of Feb 2010. That's a long holidays, actually if I can predict it's longer than my Idul Filtri's holiday, I've ever gotten. But I hate this holiday, because I can't go home quickly as usually. Why?? Because the registration at my college for the next semester and also the result of my exam should be taken in January, 15th. Thank you Allah, it's happened to me. But deep inside in my heart, I'm crying. I want to meet my parents soon.
Many of my college friends have been at their house, or if she/he doesn't go gome to their parents they're with their family, it can be with cousin, aunt, uncle,etc. The point they're with their family. I've some family at Jakarta but I don't want to disturb them. So what I'm doing now, I just want to feel this city with my older sister who I've known when I enter college. She let me to get her going around Jakarta, but in one condition said my Mom, "Don't go when night has came. You can go but please go home before 10 p.m" I try to do that. Oh yeach about the older sister, she's kind, funny, interactive, and so on. Done I tell you about my new friend that I call her my older sister
Now about my plan to fill my holiday season, I'll start t write again in this blog as much as I can. And the topic that I write start from my life, your life, such as the guide how to live, then about book, movie, song, our country and world. Maybe if I have a good feeling I'll make some poems and strory.One thing again, I'll give a summary about my lecture, but it's in Indonesia.
Hope God always give bless to us. If you want to change your self to be a good one, don't delay it!

Wednesday, July 15, 2009

Membangun di Telan Waktu Atau Tangan Jahiliyah?

Membangun di Telan Waktu

Atau Tangan Jahiliyah ?

Bangsa kita adalah bangsa yang sangat pintar mendirikan tembok-tembok besar nan kuat dan kokoh, apalagi berkaitan dengan nilai estetika. Mari kita buktikan salah satu bangunan bernilai seni tinggi, menghabiskan bermilyar-milyar uang rakyat dengan “buah manis” yang dapat dirasakan oleh berbagai kalangan masyarakat, yaitu jembatan Suramadu, penghubung antara Pulau Jawa, khususnya kawasan Provinsi Jawa Timur dengan Kepulauan Madura. Jembatan ini seharusnya tidak hanya menjadi sebuah kebanggaan sesaat tapi juga jalan bagi tiap warga sekitarnya untuk mengembangkan kualitas kehidupan mereka. Kualitas itu tidak hanya berupa material saja tapi juga erat dengan kerohanian, karena jika mau kehidupan berjalan dengan seimbang dua hal tersebut haruslah hadir di setiap nafas insani yang berkehidupan di dalamnya.

Pulau Madura dikenal dengan banyaknya para pemuka agama yang tumbuh di dalamnya, dimana peran mereka membangkitkan gairah keagamaan di kalangan masyarakat. Tetapi, salah satu kekecewaan yang timbul adalah masyarakatnya masih terbilang sedikit tertutup dengan kehadiran dunia luar dan terkadang di beberapa daerah sekelompok kecil dari mereka hanya akan mau mengadakan kerja sama yang erat apabila berasal dari satu ras saja. Dan untuk menghapus keburukan tersebut dan menanam kebaikan, dibuatlah jembatan yang menghubungkan Pulau Madura dengan Surabaya. Surabaya kota yang dikenal dengan industrinya yang maju begitu pesat. Tapi kecepatannya ini harus pula dikontrol berkebalikan denga apa yang terjadi dengan kawan seberangnya. Itulah sekelumit makna pembangunan jembatan ini. Keterikatan peran persaudaraan antar provinsi dalam sebuah negara besar.

Jembatan Suramadu sesaat menjadi sebuah bangunan megah bertaraf internasional yang menurunkan pamor negara lain, apalagi yang berada dalam ASEAN. Ia menjadi bangunan terhebat, terkuat, terindah hasil tangan anak negeri. Ketika ia diresmikan berbagai pihak menunggu datangnya waktu tersebut. Dan setelah waktu itu berlalu, berbagai kendaraan bermotor mencoba untuk menjajal jembatan tersebut.

Cerita yang sangat menyedihkan, membuat kita geli bahkan seakan tidak percaya, beberapa masyarakat melakukan tindakan yang telah dilarang oleh pemerintah setempat. Contohnya saja, berhenti di tengah-tengah jembatan, tentunya itu berarti ia berada di tengah laut lepas dimana sesaat bisa saja datang angina bertiup kencang yang dapat membalik sebuah mobil beserta penumpangnya dan berujung kematian. Banyak para pengguna jembatan ini mendapat kartu kuning, alias kena tilang dari pihak kepolisian tetapi ada juga yang dapat lolos dari jeratan hukuman ringan itu. Kita di sini perlu mempertanyakan apakah masyarakat kita sudah pintar “membaca”. Membaca dalam arti mengerti makna untaian kata yang ditulis dalam kitab peraturan penggunaan jembatan tersebut atau diri mereka yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa memandang orang lain?

Itulah salah satu dari sekian pertanyaan yang akan dan harus didalami oleh para pemakai jembatan Suramadu

Hidup saat ini memang susah, pembangunan jembatan ini pula menghabiskan biaya yang terhitung. Tetapi ada juga tangan-tangan jahiliyah yang memanfaatkannya. Mereka meraup untung dengan membongkar pasang, setiap sudut kecil yang tak terlihat oleh mata, tetapi dapat membahayakan ratusan pengendara kendaraan bermotor lewat baut-baut penghubung struktur pondasi jembatan yang kalau dijual mendapatkan untung besar. Sungguh ini gambaran bobrok emosional dan akhlak buruk dari sebagian kecil rakyat kita, Indonesia.

Lalu, pertanyaan yang timbul dari hati kecil kita, ”Apa yang harus dilakukan kalau sudah begitu jadinya?” Jawabannya adalah bertindak dengan setegas-tegasnya dalam batas kewajaran, setidaknya bisa membuat orang yang berlaku buruk tersebut itu malu pada dirinya dan untuk diri kita sendiri melihat itu sebagai tamparan yang berarti dalam menjaga kelestarian sebuah pembangunan. Pembangunan tidak ditelan jaman maupun para jahiliyah tak tahu malu, meskipun mereka terbilang sadar seratus persen atas perilaku munafik tersebut.

Tuesday, July 14, 2009

Kalajengking dan Katak

Kalajengking dan Katak

Kehidupan kita dapat kita lihat di dalam kehidupan negeri binatang. Di negeri ini banyak hal-hal yang dapat membuat kita tercengang bahkan di saat bersamaan kita bisa tertawa geli. Untuk cerita yang satu ini, kitalah yang dapat mengkategorikannya.

Pada suatu hari si raja ekor berbisa, kalajengking tampak kebingungan ketika hujan menguyur seisi hutan yang membuat sungai awalnya kering kerontang menjadi penuh dengan air mengalir sangat deras. Padahal, si raja tersebut seharusnya membawakan anak-anaknya makan malam. Ia hanya bisa menengok ke kanan ke kiri sambil memutar otaknya untuk mengambil tindakan secepat kilat agar makanan tersebut sampai kepada anak-anaknya. Terdengar suara yang menyalip masuk ke indera pendengarannya nyanyian para katak yang tak jauh dari tempat ia bertuduh. Para katak sangat bergembira dengan datangnya berkah tersebut karena akhirnya mereka dapat menyeburkan diri ke dalam air yang sangat ditunggu-tunggu itu, tak hanya itu di saat itu pula ibu-ibu katak siap untuk bertelur.

Kalajenking pun mendatangi kawanan katak dan ia pun menyapa katak, ”Hai Katak!”

Katak pun tampak ketakutan didatangi kalajenking dan ia buru-buru menghardiknya, ”Ada apa kamu menyapaku, Kalajengking? Tak biasanya kamu berperilaku seperti itu.”

”Aku membutuhkan bantuanmu, bisakah Engkau menolongku untuk saat ini?”, jawab si raja kalajengking.

”Untuk apa aku membantumu nanti kamu akan menggigitku dari racun yang ada di ekormu itu?”ucap katak enggan memberikan pertolongan.

”Ayolah katak sekali ini saja bantulah aku. Aku berjanji tidak akan menyapitmu dengan ekorku itu. Aku harus membawakan anak-anakku makan malam, tetapi karena hujan deras,aku tidak dapat melewati sungai yang aliran airnya sangat deras itu.”imbuh kalajenking.

”Benarkah itu?Benarkah engkau tidak akan menggigitku dengan ekormu itu?Kalau iya, aku akan membawamu ke seberang tetapi kau harus percaya padaku dengan berpegang erat pada punggungku agar dirimu tak jatuh ke sungai”, ujar katak.

”Iya aku janji tidak akan bertindak bodoh sewaktu kita melewati sungai itu dan sesampainya di seberang. Terima kasih, Engkau telah membantuku”, ucap kalajenking dengan penuh gembira.

”Sekarang, naiklah kamu ke punggungku, berpegang eratlah dan jangan takut dengan aliran air sungai yang akan kita lewati. Satu lagi, jauhkan ekormu dari badanku”, si katak memberi aturan pada kalajenking.

”Baiklah katak aku sudah melakukan semua permintaanmu,”kalajengking memberi tanggapan.

Di tengah perjalanan si kalajengking mulai ketakutan dan katak pun dapat merasakan dari gerak-gerik si kalajengking yang tidak dapat diam berada di atas punggungnya. Dan tiba-tiba, ekor kalajengking pun menyubit bagian belakang badan katak. Katak mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya. Ia pun berkata pada penumpangnya itu, ”Kau tidak percaya padaku, ya? Aku ’kan telah berkata bahwa kau seharusnya tidak melakukan hal itu padaku dan karena ulahmu ini kita berdua akan mati terseret derasnya air. Bagaimana kamu ini?”

Kalajenking pun menjawab, ”Maaf katak, maafkan aku. Aku tidak sengaja melakukan ini padamu, namanya juga hukum alam. Aku takut pada air dan saat aku takut akan kugunakan senjataku.”

”Tapi kan ternyata salah, ketidakpercayaanmu kepadaku yang akan membawa dirimu ke seberang telah membuat kita harus menghadapi kematian, andai saja kau tidak melakukannya pastilah anak-anakmu akan mendapatkan makanan dan diriku akan kembali ke kawanan ku untuk bersyukur bersama teman-teman atas berkah dari Tuhan yang telah ditunggu selama enam bulan ini. Kalau kau berkilah inilah hukum alam, semua itu hanyalah alasan belaka yang tak ada ujungnya,”ucap katak dengan rasa kecewa.

Kalajengking pun hanya terdiam mematung. Dan akhirnya mereka pun hanyut.

Dari cerita ini, kesimpulan yang dapat kita ambil adalah kita tidak seharusnya mencari-cari alasan atas kesalahan yang telah kita perbuat sendiri untuk menutup-nutupinya. Karena alasan itu akan menenggelamkan kita pada keburukan yang akan terus-menerus mengahntui kehidupan. Dan percayalah pada orang yang benar-benar ingin membantu kita tanpa pamrih, serta hadapilah ketakutan pada diri kita sebab jika kita berhasil memenangkannya kita akan dapat keberanian yang lain dari sisi diri kita.

Karya: Bundaku

Monday, July 13, 2009

Mengejar Mimpi Balikpapan Hemat Energi


Mengejar Mimpi

Balikpapan Hemat Energi

Ditujukan untuk mengikuti lomba esay bertemakan

“ Kota Hemat Energi “

yang diadakan di Pertamina UP V (Persero)

dan Tribun Kaltim

Disusun oleh:

Dhanis Sartika (14131)

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 BALIKPAPAN

Jalan Kapten Pierre Tendean Rt 30 No. 64 Balikpapan, Kalimantan Timur 76131

Telepon / Faximile : ( 0542 ) 421960

Esay berjudul

Menggapai Mimpi

Balikpapan Hemat Energi

Telah dibaca dan disetujui pada

13 Desember 2008

Mimpi dimiliki setiap insan. Mimpi-mimpi itu dapat diraih dari berbagai sudut kehidupan. Contohnya, seorang anak kecil ingin sekali menjadi seorang pelukis karena ia berpikir karya lukis yang ia hasilkan dapat menciptakan kehidupan nan damai bagi para penikmat seninya dan dapat bertujuan untuk menumpahkan segala aspirasi, imajinasinya serta ingin menjadi pelukis terkenal di seluruh penjuru negeri. Dalam menggapai mimpi ini, tidak semudah membalikkan telapak tangan sebab dibutuhkan segala kemampuan yang kita miliki untuk disalurkan. Walaupun seperti itu, terkadang kita pun butuh dukungan dari lingkungan sekitar, baik itu orang tua dan kerabat. Apabila semua telah bersedia untuk membantu kita, maka tidak ada satu kata yang terucap dari bibir, mimpi itu tidak menjadi kenyataan.

Jika, kita menelusuri Kota Balikpapan dalam berbagai seluk-beluknya, salah satu yang dapat kita berikan perhatian khusus ialah tujuan kotanya yang ingin menjadi kota hemat energi. Salah satu alasan mimpi ini muncul di setiap sisi kota ialah Kota Baikpapan merupakan kota percontohan di Kalimantan Timur untuk hemat energi. Selain daripada itu keluarnya pernyataan Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mengenai kondisi ketersedian sumber daya alam negeri kita yang sebagian besar merupakan bahan utama pembangkit tenaga listrik dimana semakin lama semakin menipis dan perlu adanya penghematan pada tanggal 28 September 2005 dikutip dari detik.com dinyatakan bahwa minyak bumi Indonesia akan habis sekitar 18 tahun ke depan, gas 60 tahun, dan batubara 150 tahun ke depan. Keadaan seperti ini dapat berimbas pada aspek-aspek penting kehidupan seperti pasokan aliran listrik dan transportasi yang setiap pergerakannya membutuhkan bahan bakar utama hasil pengolahan minyak bumi, seperti solar, premium avtur dan sebagainya.

Mari kita kupas salah satu dampak yang dapat kita lihat dan rasakan hingga saat ini sebagai warga Kota Balikpapan dengan adanya pemadaman listrik bergilir yang dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Tindakan ini diambil oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut agar seluruh pengguna jasa listrik merasakan manfaat dari jasa yang ditawarkan. Selain itu, perlunya tindakan ini digunakan untuk efisiensi penggunaan bahan bakar yang harga pembeliannya semakin lama semakin melonjak di pasaran, Rp 40.000 per barel tanpa biaya olahan hanya sekadar minyak mentah (crude oil). Tak ayal tindakan ini membuat sebagian kalangan masyarakat merasa terganggu, salah satunya pelajar. Dari data yang dikumpulkan melalui hasil pendapat pelajar SMA Negeri 1 Balikpapan yang dimintai opininya dari 40 orang yang diacak dari kelas X hingga kelas XII diperoleh hasil sebagian besar, yaitu 33 orang menyatakan pemadaman yang dilakukan pihak PLN dengan dalih berhemat telah mengganggu aktifitas belajar di malam hari, terutama apabila esok hari harus berhadapan dengan ulangan yang membutuhkan belajar ekstra keras. Sedangkan tujuh orang lainnya tidak merasa terbebani.

Di sisi lain, kita dapat menyaksikan adanya instansi-instansi pemerintahan yang tidak melakukan penghematan energi listrik, seperti yang terjadi di lingkungan kantor Pemerintah Kota Balikpapan di saat pegawai tidak berada di dalam kantor televisi menyala sepanjang hari. Jadi, apabila dikatakan salah satu cara berhemat yang dilakukan PLN dengan memadamkan lampu hanya akan terbuang percuma karena di pihak lain terjadi kebalikannya di saat aliran listrik mengalir sepanjang hari bukannya berhemat malah hura-hura.

Bagian kedua dari Kota Balikpapan yang dapat kita lihat adalah penggunaan kendaraan bermotor. Balikpapan dapat dibilang sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia dikarenakan padatnya arus lalu lintas baik itu di jalan protokol, provinsi maupun kota. Semakin padatnya kendaraan bermotor, dikarenakan peningkatan jumlah penduduk Balikpapan yang sangat tinggi diperkirakan jumlah rata-rata tiap bulan sebesar 1500 jiwa dengan jumlah total menurut data yang diperoleh di Koran Tempo edisi 21 Oktober 2008 adalah 591 ribu orang dari laporan yang disampaikan oleh Kepala Seksi Pendataan Kantor Catatan Sipil Balikpapan, Bapak Hasbullah Helmi. Jumlah peningkatan ini dipicu oleh pertambahan penduduk yang sangat tinggi dimana dapat dihasilkan angka kelahiran dan para pendatang dari Pulau Jawa dan Sulawesi.

Peningkatan jumlah kendaraan bermotor di Balikpapan telah membuat tingkat polusi udara yang cukup tinggi. Kita dapat merasakan tingginya polusi udara di Balikpapan di saat para pegawai swasta maupun negeri istirahat makan siang dan jam siswa-siswi pulang sekolah. Kemacetan di saat penjemputan para pelajar ini berimbas pada pemakaian bahan bakar kendaraan yang terbuang begitu banyak. Tidak hanya itu,di pagi hari yang seharusnya dapat menghirup udara segar malah menghirup kepulan asap knalpot motor dan mobil. Berdasarkan hasil catatan yang diperoleh didapati jumlah kendaraan di Kota Minyak sebanyak 285.957 buah, yang 37.174 buah diantaranya merupakan jenis mobil penumpang sedangkan untuk sepeda motor mencapai 223.387 unit.

Esensi lainnya, di saat malam minggu dimana hampir seluruh warga Kota Balikpapan keluar rumah untuk menghabiskan akhir pekannya tanpa memikirkan seberapa banyak mereka menghabiskan biaya untuk mengeluarkan biaya pembelian bensin karena merasa dirinya adalah pelanggan dan pelanggan memang seharusnya dihormati sebagai raja untuk dipenuhi kebutuhannya disertai pula tidak adanya pemikiran bagaimana nasib alam menyerap emisi gas buang yang dihasilkan, warga tersebut dapat dikatakan telah boros energi dan itu jauh dari mengejar mimpi menjadikan Kota Balikpapan yang hemat energi.

Tidak hanya itu, masih adanya pemikiran bahwa mengendarai kendaraan pribadi mempunyai nilai prestige yang lebih tinggi dibandingkan naik kendaraan umum bisa menjadi pembunuh angan-angan yang telah dicanangkan. Di satu pihak yang patut dipertanyakan dalam keadaan Kota Balikpapan saat ini ialah kesiapan angkutan umum perkotaan dalam mengangkut penumpangnya. Kendaraan yang disediakan haruslah nyaman untuk dinikmati selama perjalanan. Sehingga, seorang warga tak perlu ragu menggunakan jasa transportasi umum.

Maka penyelesaian dari dua permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya, yaitu pasokan listrik yang terbatas dan konsumsi bahan bakar minyak bumi yang semakin bertambah tetapi nyatanya distribusi bahan tersebut makin terkuras diperlukan kesadaran dari seluruh elemen masyarakat. Kesadaran ini tak hanya sebatas ucapan basa-basi yang terlontar begitu saja dari mulut tetapi diikuti dengan keseriusan dalam hati untuk meyakini hakikat manfaat dan merealisasikannya di kehidupan nyata. Ibarat seorang bayi yang akan bisa mengucapkan kata ”Mama” ataupun ”Papa” jika setiap hari diperdengarkan kalimat tersebut setiap saat.

Selain itu, mendapatkan impian kota hemat energi juga diperlukan sebuah landasan hukum yang pasti seperti sebuah aturan dari pemerintah pusat Republik Indonesia, Undang-Undang No.20 Tahun 2002 mengenai ketenagalistrikkan pada Bab II Asas dan Tujuan Pasal 2 yang meminta seluruh pemakai listrik untuk menganut asas manfaat, efisiensi, berkeadilan, kebersamaan, optimasi ekonomis dalam pemanfaatan sumber daya berkelanjutan, percaya dan mengandalkan pada kemampuan sendir, keamanan dan keselamatan, serta kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dengan landasan tersebut dapat dijadikan sebuah pondasi dalam jati diri setiap warga kota untuk menerapkan hidup hemat energi.

Selanjutnya, diperlukan pula suatu program yang membuat masyrakat merasa nyaman dan menikmati melakukan kebiasaan hemat energi yang tidak hanya baik bagi dirinya saja tetapi setiap orang yang hidup berdampingan bersamanya hari ini dan di masa depan nanti. Hal ini seperti mengadakan program bersepeda dan jalan sehat yang paling tidak dapat diselenggarakan minimalnya 1 bulan sekali. Dalam kegiatan ini dapat pula diselingi dengan kegiatan membuat sebuah hadiah kejutan bagi para partisipan yang tertangkap sedang melakukan aksi hemat energi. Melalui kegiatan ini, diharapkan warga kota akan terpacu untuk melakukan kegiatan mulia tersebut.

Bukan hanya itu saja, diharapkan Pemerintah Kota Balikpapan menetapkan satu hari tanpa kendaraan bermotor atau car free day, seperti layaknya kota-kota besar di Pulau Jawa yakni Malang ataupun seperti di negara-negara lain, contohnya Singapura, Malaysia dan Brazil. Dalam menerapkan sistem ini bukan masalah yang mudah karena pastinya ada saja salah satu pihak yang menjadi oposisi. Kebanyakan dari pemerintah kota yang merasakan kritikan seperti perjalanan untuk ke suatu tempat menjadi terasa lebih jauh, rumit dan mengeluarkan biaya yang cukup menguras isi kantong. Padahal bila dilihat tujuan mulia dari terselenggaranya kegiatan tersebut dapat mengurangi intensitas polusi udara yang dapat mengganggu kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dimana sering terjadi jika udara yang dihirup manusia berada di ambang batas atas normal. Oleh karenanya perlu dilakukan secara bertahap, yaitu mengadakan sosialisasi, memilih jalan-jalan tertentu yang akan menjadi area uji coba, dan memilih hari yang tepat untuk dijadikan momentum wajib dipatuhi bagi seluruh kalangan masyarakat untuk ditetapkan sebagai hari tanpa berkendara kendaraan bermotor.

Bagi pemerintah kota dapat melakukan sebuah sistem tata kota yang terencana dimana perangkat lalu lintas dapat memanfaatkan panasnya matahari di siang hari untuk mengaktifkan rambu-rambu di jalan raya, seperti lampu lalu lintas. Untuk saat ini kita sudah dapat menemukan 2 area jalan yang telah memakai kecanggihan tekhnologi ramah lingkungan tersebut, yaitu di jalan menuju Plaza Rapak dan daerah Ringroad. Diharapkan ke depannya akan ada wilayah-wilayah lainnya yang menggunakan kecanggihan tersebut.

Adapula cara lain yang dapat ditempuh oleh pemerintah kota ialah pengendalian transportasi. Tahapan yang dapat ditempuh, yaitu melalui pengalihan ke penggunaan transportasi masal (mass atau public transport) serta moda non motorized transportation, berupa menggunakan sepeda untuk pergi ke suatu tempat. Perlu untuk dijadikan bahan catatan komunitas sepeda yang saat ini sedang terkenal di kalangan masyarakat Balikpapan ialah B2W (Bike to Work).
Pencapaian asumsi tersebut dibutuhkan suatu infrastruktur yang dibenahi dan digarap serius lebih dulu. Karena tanpa didahului keduanya, kebijakan manajemen pengendalian transportasi ini akan mudah gagal atau tidak terlalu berguna atau hanya akan menghambat mobilitas penduduk kota, padahal mobilitas adalah sebuah kemestian di kota.

Untuk kalangan masyarakat umum, mereka dapat membatasi bepergian ke luar rumah hanya pada saat sesuatu yang diperlukan demi
penghematan pengeluaran BBM (Bahan Bakar Minyak Bumi). Hal ini diperkuat dengan sebuah pernyataan yang di kutip dari website Koran Tempo bahwa rata-rata mobil dapat menghabiskan 1 liter premium untuk menempuh jarak 23,47 km tanpa adanya kemacetan di jalan. Kepastian ini menjadi pudar untuk wilayah Balikpapan yang saat ini jalanannya sudah mengalami kemacetan di jam-jam tertentu. Dan kemacetan itulah penyebab borosnya pemakaian BBM. Mereka pun harus berani melepaskan paradigma bahwa pemakaian mobil sendiri itu meningkatkan gengsi mereka, karena di zaman sekarang gengsi bukan harga tinggi, yang tinggi adalah bagaimana cara kita memperpanjang hidup bumi ini agar dapat dirasakan oleh anak-cucu kita.

Disisi hemat listrik, seharusnya masyarakat yang menggunakan pendingin ruangan dapat mempertahankan suhu ruangan sebesar 25ºC, agar beban listrik tidak terlalu tinggi. Warga pun dapat membuat pola rumah bangunan yang dirancang dengan massa ruang, keterbukaan ruang, dan hubungan ruang luar-dalam yang cair, teras lebar, ventilasi bersilangan, dan void berimbang yang secara klimatik tropis berfungsi untuk sirkulasi pengudaraan dan pencahayaan alami merata ke seluruh ruangan agar hemat energi, menurut salah satu pakar arsitektur Indonesia, Nirwono Joga. Jangan pula kita terlewatkan dengan iklan informasi yang disampaikan oleh PLN, ialah memantikan dua lampu yang tidak terpakai pada jam 17.00-22.00 karena pada saat itu merupakan puncaknya tegangan listrik tertinggi serta menggunakan lampu hemat energi . Kalaupun bisa memadamkan peralatan listrik yang tidak dipergunakan. Lalu hasil akhir yang kita peroleh adalah ”Balikpapan terus terang” dan ”Selamat Tinggal Byar Pet

Akhir tulisan ini, penulis hanya berharap seluruh elemen masyarakat Balikpapan bersatu padu mencapai tujuan hakiki Kota Balikpapan Hemat Energi yang bukan sekedar timbul karena adanya keharusan dari terbitnya surat keputusan Presiden, Menteri atau kepala pejabat lainnya, melainkan ia hadir memang dari hati nurani warga kotanya yang ingin hidup damai, tentram dan aman. Balikpapan, kubangun dengan amal jariyah, kujaga lewat persatuan dan kesatuan warganya dan kubela dengan doa yang ikhlas dari relung hati paling dalam.



Apa Arti Merdeka

APA ARTI MERDEKA?

Goresan pena: Andi Burhanuddin Solong

Selamat pagi, Balikpapan......!

Ada harapan dan tantangan yang tertitip padaku,

Mungkinkah kumampu membawamu di ladang penggembalaan,

di saat kondisi serta konstitusi bangsa dan negara ini di lembah kemuraman?

Untuk apa kita merdeka.....?

Untuk apa.....?!

Biarlah, kesemuanya menjadi sejarah kelam

Aku takkan pernah bahagia di dalam keping-keping kehidupan

Selama rakyat masih menderita,

biarlah aku terkubur tanpa batu nisan

Daripada aku harus menerima kebahagian

di dalam jeritan yang menyayatkan

Untuk arti sebuah perjalanan panjang,

yang tiada makna

Biarlah, aku terhempas dan menggeliat.....

Asalkan rakyatku tersenyum di dalam harapan

Dan hari esoknya yang tak pernah musnah

di penghujung nafasku yang tersisa

Balada Kota

Balada Kota

Goresan pena: Dhanis Sartika

Sekolah Menengah Atas Negeri 1

Balikpapan

Hari ini ku duduk di sudut Kota Balikpapan

Nan sepi dan sunyi

Temaram rembulan sinari malam dingin

Bintang-bintang pun tersipu malu

Pergi bersembunyi di balik awan kelabu

Dinginnya malam merasuk hingga menghempas diri

Jatuh, lunglai, tak berdaya

Pikirku kacau mengembara pada gelisah

Risau akan pesona alam kian lama kian sirna

Setitik air membasahi tanah gersang

Tak sanggup menampung jerit derita alam

Gemuruh air membanjiri ruang-ruang

Gulungan ombak menyeringai padaku

Hempasan angin melayangkan genting-gentinngku

Di bawah keriangan maya kota

Dulu, ia sinari Kotaku dengan hangat

Tapi kini, berubah menjadi amarah tiada tanding

Panasnya menang bersama keangkuhannya

Hingga aku pun kalah

Tak kuasa ku menahan peluh

Teriknya menghanguskan kulitku

Membakar pembuluh darahku

Gerahnya mengeringkan tenggorokanku

Hingga terlintas di benakku

”Inikah akhir kotaku ?”

Tapi bukan!

Itu hanya ilusi nyata dari sebuah kehidupan

Dihuni topeng-topeng angkuh demi peradaban

Tanpa malu

Mereka gerayangi tubuh alam dengan nafsu setan

penuh keserakahan, kecintaan akan dunia

hasrat kuasai kekayaan sang alam

Keyakinanku belumlah sirna pada harapan

Dan doa yang tiada putus walau

Topeng-topeng angkuh tetap bersikukuh

Berjalan dengan kesombongan

Aku akan berdiri kokoh

di titik peraduan antara kebenaran dan kepalsuan

mengemban tugas selamatkan alam kotaku Balikpapan

yang Kubangun Kujaga Kubela hingga akhir hayatku

Demo dan Demokrasi

DEMO dan DEMOKRASI

Kumpulan Puisi

Goresan Pena: Rabbana, S.H

Sandiwara besar belum lagi usai

Babak demi babak terlewati

Dalam lintas sebuah cerita merebut kekuasaan

Ribuan masa jadi cermin sebuah kemenangan

Atas nama lembaga, pendukung bermunculan

Bak benih-benih lahirkan simpatisan

tebarkan harapan

Jadi lahan manfaatkan peluang

hilangkan nurani, puaskan diri

Skenario tertata rapi

Lahirkan aktor-aktor memainkan perannya

Pertunjukan terus berlalu

Cerita demi cerita terlukis dalam ribuan massa

Ciptakan suasana propaganda menawarkan janji

Kelompok simpatisan berorasi

bagai proklamator berbaur unjuk rasa

Menyebar lewat matahari yang kusut, kehabisan keringat

Para saksi berbicara lantang penuh semangat

bagai penegak hukum

(Pengacara mengungkapkan fakta)

Dua kubu kaum intelektual berdebat cari kesalahan

Sementara,

Bapak Hakim dan Bapak Jaksa main catur tunggu keputusan

Lautan manusia berbaur berteriak membakar semangat

terhanyut buaikan angan jadi nyata

Teriakan hampir hilang, tersumbat tenggorakan jadi parau

Pikiran tak berdaya untuk berpikir,

Badan lunglai tak berdaya,

Mata menatap tak percaya

Babak baru telah lahir diatas kucuran keringat massa

bibir kering hampir tanpa suara

Sosok bidadari mungil berselendang menutup keangkuhan

memproklamirkan diri sebagai penguasa penentu kebijakan

Dengan ucapan lemah gemulai lewat bibirnya yang tipis tapi kering

Lewat sorot matanya tanpa alis

Lewat tangannya menari-nari pada harapan kertas, berpedoman

Kitab undang-undang dan peraturan buat alasan berpijak

Korbankan kebenaran

hancurkan perasaan terus berjalan

Tanpa peduli perpecahan jadikan alat kepentingan

Lahirkan baji demokrasi sebagai pembawa malapetaka

Politik bagi rakyat

Lautan massa adalah lambang demokrasi

jadikan sebagai objek politik

jalankan mekanisme yang amburadul

memutarbalikkan fakta mengatasnamakan sistem

buat janji naikkan jabatan, korbankan rakyat

Tak tahu diri!!!!

Balikpapan, 2006