Kalajengking dan Katak
Kehidupan kita dapat kita lihat di dalam kehidupan negeri binatang. Di negeri ini banyak hal-hal yang dapat membuat kita tercengang bahkan di saat bersamaan kita bisa tertawa geli. Untuk cerita yang satu ini, kitalah yang dapat mengkategorikannya.
Pada suatu hari si raja ekor berbisa, kalajengking tampak kebingungan ketika hujan menguyur seisi hutan yang membuat sungai awalnya kering kerontang menjadi penuh dengan air mengalir sangat deras. Padahal, si raja tersebut seharusnya membawakan anak-anaknya makan malam. Ia hanya bisa menengok ke kanan ke kiri sambil memutar otaknya untuk mengambil tindakan secepat kilat agar makanan tersebut sampai kepada anak-anaknya. Terdengar suara yang menyalip masuk ke indera pendengarannya nyanyian para katak yang tak jauh dari tempat ia bertuduh. Para katak sangat bergembira dengan datangnya berkah tersebut karena akhirnya mereka dapat menyeburkan diri ke dalam air yang sangat ditunggu-tunggu itu, tak hanya itu di saat itu pula ibu-ibu katak siap untuk bertelur.
Kalajenking pun mendatangi kawanan katak dan ia pun menyapa katak, ”Hai Katak!”
Katak pun tampak ketakutan didatangi kalajenking dan ia buru-buru menghardiknya, ”Ada apa kamu menyapaku, Kalajengking? Tak biasanya kamu berperilaku seperti itu.”
”Aku membutuhkan bantuanmu, bisakah Engkau menolongku untuk saat ini?”, jawab si raja kalajengking.
”Untuk apa aku membantumu nanti kamu akan menggigitku dari racun yang ada di ekormu itu?”ucap katak enggan memberikan pertolongan.
”Ayolah katak sekali ini saja bantulah aku. Aku berjanji tidak akan menyapitmu dengan ekorku itu. Aku harus membawakan anak-anakku makan malam, tetapi karena hujan deras,aku tidak dapat melewati sungai yang aliran airnya sangat deras itu.”imbuh kalajenking.
”Benarkah itu?Benarkah engkau tidak akan menggigitku dengan ekormu itu?Kalau iya, aku akan membawamu ke seberang tetapi kau harus percaya padaku dengan berpegang erat pada punggungku agar dirimu tak jatuh ke sungai”, ujar katak.
”Iya aku janji tidak akan bertindak bodoh sewaktu kita melewati sungai itu dan sesampainya di seberang. Terima kasih, Engkau telah membantuku”, ucap kalajenking dengan penuh gembira.
”Sekarang, naiklah kamu ke punggungku, berpegang eratlah dan jangan takut dengan aliran air sungai yang akan kita lewati. Satu lagi, jauhkan ekormu dari badanku”, si katak memberi aturan pada kalajenking.
”Baiklah katak aku sudah melakukan semua permintaanmu,”kalajengking memberi tanggapan.
Di tengah perjalanan si kalajengking mulai ketakutan dan katak pun dapat merasakan dari gerak-gerik si kalajengking yang tidak dapat diam berada di atas punggungnya. Dan tiba-tiba, ekor kalajengking pun menyubit bagian belakang badan katak. Katak mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya. Ia pun berkata pada penumpangnya itu, ”Kau tidak percaya padaku, ya? Aku ’kan telah berkata bahwa kau seharusnya tidak melakukan hal itu padaku dan karena ulahmu ini kita berdua akan mati terseret derasnya air. Bagaimana kamu ini?”
Kalajenking pun menjawab, ”Maaf katak, maafkan aku. Aku tidak sengaja melakukan ini padamu, namanya juga hukum alam. Aku takut pada air dan saat aku takut akan kugunakan senjataku.”
”Tapi kan ternyata salah, ketidakpercayaanmu kepadaku yang akan membawa dirimu ke seberang telah membuat kita harus menghadapi kematian, andai saja kau tidak melakukannya pastilah anak-anakmu akan mendapatkan makanan dan diriku akan kembali ke kawanan ku untuk bersyukur bersama teman-teman atas berkah dari Tuhan yang telah ditunggu selama enam bulan ini. Kalau kau berkilah inilah hukum alam, semua itu hanyalah alasan belaka yang tak ada ujungnya,”ucap katak dengan rasa kecewa.
Kalajengking pun hanya terdiam mematung. Dan akhirnya mereka pun hanyut.
Dari cerita ini, kesimpulan yang dapat kita ambil adalah kita tidak seharusnya mencari-cari alasan atas kesalahan yang telah kita perbuat sendiri untuk menutup-nutupinya. Karena alasan itu akan menenggelamkan kita pada keburukan yang akan terus-menerus mengahntui kehidupan. Dan percayalah pada orang yang benar-benar ingin membantu kita tanpa pamrih, serta hadapilah ketakutan pada diri kita sebab jika kita berhasil memenangkannya kita akan dapat keberanian yang lain dari sisi diri kita.
Karya: Bundaku


No comments:
Post a Comment