DEMO dan DEMOKRASI
Kumpulan Puisi
Goresan Pena: Rabbana, S.H
Sandiwara besar belum lagi usai
Babak demi babak terlewati
Dalam lintas sebuah cerita merebut kekuasaan
Ribuan masa jadi cermin sebuah kemenangan
Atas nama lembaga, pendukung bermunculan
Bak benih-benih lahirkan simpatisan
tebarkan harapan
Jadi lahan manfaatkan peluang
hilangkan nurani, puaskan diri
Skenario tertata rapi
Lahirkan aktor-aktor memainkan perannya
Pertunjukan terus berlalu
Cerita demi cerita terlukis dalam ribuan massa
Ciptakan suasana propaganda menawarkan janji
Kelompok simpatisan berorasi
bagai proklamator berbaur unjuk rasa
Menyebar lewat matahari yang kusut, kehabisan keringat
Para saksi berbicara lantang penuh semangat
bagai penegak hukum
(Pengacara mengungkapkan fakta)
Dua kubu kaum intelektual berdebat cari kesalahan
Sementara,
Bapak Hakim dan Bapak Jaksa main catur tunggu keputusan
Lautan manusia berbaur berteriak membakar semangat
terhanyut buaikan angan jadi nyata
Teriakan hampir hilang, tersumbat tenggorakan jadi parau
Pikiran tak berdaya untuk berpikir,
Badan lunglai tak berdaya,
Mata menatap tak percaya
Babak baru telah lahir diatas kucuran keringat massa
bibir kering hampir tanpa suara
Sosok bidadari mungil berselendang menutup keangkuhan
memproklamirkan diri sebagai penguasa penentu kebijakan
Dengan ucapan lemah gemulai lewat bibirnya yang tipis tapi kering
Lewat sorot matanya tanpa alis
Lewat tangannya menari-nari pada harapan kertas, berpedoman
Kitab undang-undang dan peraturan buat alasan berpijak
Korbankan kebenaran
hancurkan perasaan terus berjalan
Tanpa peduli perpecahan jadikan alat kepentingan
Lahirkan baji demokrasi sebagai pembawa malapetaka
Politik bagi rakyat
Lautan massa adalah lambang demokrasi
jadikan sebagai objek politik
jalankan mekanisme yang amburadul
memutarbalikkan fakta mengatasnamakan sistem
buat janji naikkan jabatan, korbankan rakyat
Tak tahu diri!!!!
Balikpapan, 2006


No comments:
Post a Comment