Membangun di Telan Waktu
Atau Tangan Jahiliyah ?
Bangsa kita adalah bangsa yang sangat pintar mendirikan tembok-tembok besar nan kuat dan kokoh, apalagi berkaitan dengan nilai estetika. Mari kita buktikan salah satu bangunan bernilai seni tinggi, menghabiskan bermilyar-milyar uang rakyat dengan “buah manis” yang dapat dirasakan oleh berbagai kalangan masyarakat, yaitu jembatan Suramadu, penghubung antara Pulau Jawa, khususnya kawasan Provinsi Jawa Timur dengan Kepulauan Madura. Jembatan ini seharusnya tidak hanya menjadi sebuah kebanggaan sesaat tapi juga jalan bagi tiap warga sekitarnya untuk mengembangkan kualitas kehidupan mereka. Kualitas itu tidak hanya berupa material saja tapi juga erat dengan kerohanian, karena jika mau kehidupan berjalan dengan seimbang dua hal tersebut haruslah hadir di setiap nafas insani yang berkehidupan di dalamnya.
Pulau Madura dikenal dengan banyaknya para pemuka agama yang tumbuh di dalamnya, dimana peran mereka membangkitkan gairah keagamaan di kalangan masyarakat. Tetapi, salah satu kekecewaan yang timbul adalah masyarakatnya masih terbilang sedikit tertutup dengan kehadiran dunia luar dan terkadang di beberapa daerah sekelompok kecil dari mereka hanya akan mau mengadakan kerja sama yang erat apabila berasal dari satu ras saja. Dan untuk menghapus keburukan tersebut dan menanam kebaikan, dibuatlah jembatan yang menghubungkan Pulau Madura dengan
Jembatan Suramadu sesaat menjadi sebuah bangunan megah bertaraf internasional yang menurunkan pamor negara lain, apalagi yang berada dalam ASEAN. Ia menjadi bangunan terhebat, terkuat, terindah hasil tangan anak negeri. Ketika ia diresmikan berbagai pihak menunggu datangnya waktu tersebut. Dan setelah waktu itu berlalu, berbagai kendaraan bermotor mencoba untuk menjajal jembatan tersebut.
Cerita yang sangat menyedihkan, membuat kita geli bahkan seakan tidak percaya, beberapa masyarakat melakukan tindakan yang telah dilarang oleh pemerintah setempat. Contohnya saja, berhenti di tengah-tengah jembatan, tentunya itu berarti ia berada di tengah laut lepas dimana sesaat bisa saja datang angina bertiup kencang yang dapat membalik sebuah mobil beserta penumpangnya dan berujung kematian. Banyak para pengguna jembatan ini mendapat kartu kuning, alias kena tilang dari pihak kepolisian tetapi ada juga yang dapat lolos dari jeratan hukuman ringan itu. Kita di sini perlu mempertanyakan apakah masyarakat kita sudah pintar “membaca”. Membaca dalam arti mengerti makna untaian kata yang ditulis dalam kitab peraturan penggunaan jembatan tersebut atau diri mereka yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa memandang orang lain?
Itulah salah satu dari sekian pertanyaan yang akan dan harus didalami oleh para pemakai jembatan Suramadu
Hidup saat ini memang susah, pembangunan jembatan ini pula menghabiskan biaya yang terhitung. Tetapi ada juga tangan-tangan jahiliyah yang memanfaatkannya. Mereka meraup untung dengan membongkar pasang, setiap sudut kecil yang tak terlihat oleh mata, tetapi dapat membahayakan ratusan pengendara kendaraan bermotor lewat baut-baut penghubung struktur pondasi jembatan yang kalau dijual mendapatkan untung besar. Sungguh ini gambaran bobrok emosional dan akhlak buruk dari sebagian kecil rakyat kita, Indonesia.
Lalu, pertanyaan yang timbul dari hati kecil kita, ”Apa yang harus dilakukan kalau sudah begitu jadinya?” Jawabannya adalah bertindak dengan setegas-tegasnya dalam batas kewajaran, setidaknya bisa membuat orang yang berlaku buruk tersebut itu malu pada dirinya dan untuk diri kita sendiri melihat itu sebagai tamparan yang berarti dalam menjaga kelestarian sebuah pembangunan. Pembangunan tidak ditelan jaman maupun para jahiliyah tak tahu malu, meskipun mereka terbilang sadar seratus persen atas perilaku munafik tersebut.


No comments:
Post a Comment